Contacts
Get in touch
Close
kacamata Brand SEO

Brand SEO: Strategi Bertahan di Dunia Tanpa Klik

Akhir-akhir ini, semakin banyak brand yang datang dengan permintaan yang sama:

“Kami mau brand kami muncul di AI.”

“Kami mau dikutip ChatGPT.”

Lalu, beberapa menit kemudian, pertanyaannya berubah jadi:

“Kalau muncul di AI, bisa langsung dihitung konversi sales-nya berapa?”

Saya tidak menyalahkan siapa pun. Kita semua terbiasa mengukur segala hal dari angka konversi. ROI harus jelas. Dashboard harus hijau. Setiap rupiah harus bisa dilacak balik ke revenue.

Tapi ada satu hal yang perlu kita luruskan sejak awal.

AI Citation Bukan Tombol Checkout

AI citation bukan performance ads. Bukan direct response campaign. Bukan Google Ads yang bisa kita set CPA target, lalu tinggal tunggu lead masuk.

AI citation adalah trust layer.

Ia bekerja seperti reputasi. Seperti word-of-mouth. Seperti saat seseorang menyebut nama brand Anda dalam percakapan, bukan karena diminta, bukan karena dibayar, tapi karena memang layak disebut.

Dan trust layer tidak pernah dibangun dari shortcut.

Fondasi yang Belum Rapi

Ini yang sering saya temui di lapangan:

Brand ingin visible di AI, tapi schema markup-nya belum optimal. Meta structure belum konsisten. Entity brand belum jelas terdefinisi. Narasi digital-nya terfragmentasi ,satu pesan di website, pesan berbeda di media sosial, pesan lain lagi di press release.

Kita ingin jadi jawaban. Tapi fondasi kita belum siap untuk dipercaya.

Ini bukan soal belum cukup konten. Banyak brand yang kontennya sudah ribuan halaman. Masalahnya bukan kuantitas. Masalahnya adalah koherensi.

AI tidak membaca konten seperti manusia yang scroll cepat. AI memahami struktur. AI mengenali entitas. AI mereferensikan yang konsisten dan kredibel.

Kalau brand Anda bicara dengan “banyak suara” tanpa satu narasi yang utuh, AI akan kesulitan memahami siapa Anda sebenarnya. Dan kalau AI tidak bisa memahami, ia tidak akan merekomendasikan.

Melihat Masa Depan dengan Kacamata Lama

Ada satu pola pikir yang menurut saya perlu kita tinggalkan:

“Berapa sales langsung dari AI?”

Pertanyaan ini bukan salah. Tapi ia menempatkan kita di posisi yang keliru. Karena saat kita hanya mengukur AI dari direct conversion, kita sedang menilai marathon dengan stopwatch sprint.

AI search mengubah cara orang menemukan, mempertimbangkan, dan mempercayai sebuah brand. Jalurnya lebih panjang, lebih kompleks, dan sering kali tidak linear.

Seseorang bertanya ke ChatGPT: “Rekomendasi agensi digital marketing di Indonesia yang kuat di SEO?”

Kalau brand Anda muncul di jawaban itu, bukan karena iklan, tapi karena AI menganggap Anda relevan dan kredibel, efeknya bukan sekadar satu klik. Efeknya adalah persepsi. Adalah trust. Adalah shortlist.

Dan trust tidak bisa diukur dengan satu baris di spreadsheet konversi.

2026: Bukan Tentang Traffic, Tapi Otoritas

Kita sedang memasuki era di mana aturan mainnya bergeser:

Bukan lagi soal siapa yang paling banyak traffic. Tapi siapa yang paling kuat otoritasnya.

Bukan tentang siapa yang paling keras beriklan. Tapi siapa yang paling jelas identitas dan strukturnya.

Bukan tentang siapa yang paling agresif. Tapi siapa yang paling bisa dipercaya oleh manusia dan oleh mesin.

Pertanyaan refleksi untuk brand Anda:

Apakah entity brand Anda sudah terdefinisi jelas secara digital? Apakah schema markup sudah merepresentasikan siapa Anda? Apakah narasi brand Anda konsisten di seluruh touchpoint? Apakah konten Anda cukup terstruktur untuk di-cite AI?

Kalau jawabannya belum yakin, mungkin itu sinyal bahwa langkah pertama bukan mengejar AI citation, tapi membenahi fondasi.

Trust Layer Dibangun Bertahap

Yang menarik dari trust layer adalah: ia tidak bisa dipercepat, tapi bisa diperkuat.

Brand yang konsisten membangun narasi yang koheren, struktur digital yang rapi, dan konten yang bernilai, secara bertahap akan menjadi pilihan natural. Bukan hanya pilihan manusia, tapi juga pilihan mesin.

Saya percaya masa depan brand bukan ditentukan oleh seberapa besar budget iklan, tapi seberapa dalam trust yang sudah terbangun.

Dan trust itu dimulai dari fondasi yang sering kali tidak seksi: schema yang benar, struktur konten yang konsisten, entity yang jelas, dan narasi yang utuh.

Tidak glamor. Tidak instan. Tapi akan bertahan.

Karena ke depan, yang akan bertahan bukan brand yang paling agresif, tapi brand yang paling bisa dipercaya.

Siap Membangun Trust Layer untuk Brand Anda?

Olakses membantu brand membangun fondasi digital yang kuat untuk era AI search, mulai dari SEO fundamental audit, entity optimization, hingga strategi GEO (Generative Engine Optimization) yang terukur.

Artikel ini dikembangkan dari post LinkedIn Dhesiana Mawardhianti yang membahas mengapa brand perlu mengubah cara pandang terhadap AI search dan membangun trust layer yang sesungguhnya.

Lagi cari partner buat scale bisnis?

Kalau kamu baca sampai sejauh ini, kemungkinan kamu lagi serius riset solusi yang tepat. Kita bisa ngobrol dulu tanpa komitmen.